Muslim 4.0 More Digital, More Spiritual

#1 Setahun lalu, saya memprediksi mengenai terbentuknya MUSLIM 4.0 yaitu konsumen muslim yg akan semakin DIGITAL dan semakin SPIRITUAL

#2 Prediksi itu benar dan rupanya COVID-19 telah mempercepat prosesnya. COVID-19 telah mjd KATALIS terwujudnya MUSLIM 4.0.

#3 Pertama DIGITAL, Dengan adanya social distancing maka kaum muslim dipaksa bekerja, berbelanja, beribadah, bersedakah, dan berbisnis secara digital.

#4 Kedua SPIRITUAL, Kaum muslim melihat bencana COVID-19 sebagai bentuk cobaan dan “hukuman” terhadap tingkah-laku dan dosa yang diperbuat oleh manusia.

#5 Oleh karena itu, bagi kaum muslim bencana ini justru sebagai bentuk teguran untuk semakin mendekatkan diri kepada-NYA.

#6 Ketiga EMPHATIC, Dlm bbrpa minggu/bulan ke depan akan ada byk perusahaan/rumah tangga bangkrut, gelombang PHK/pengangguran di mana2, jumlah kaum duafa melonjak. Kondisi ini menciptakan EMPATHIC SOCIETY

#7 Dengan demikian, THREE MUSLIM MEGASHIFTS menuntut bisnis tidak lagi dikelola seperti sebelumnya. Cara berbisnis harus direorientasi dan diredefinisi.

#8 Maka dari itu, COVID-19 merupakan GREAT CORRECTOR terhadap praktek bisnis tidak benar selama ini. Hikmahnya, pandemi ini mengingatkan kita bahwa ada “something wrong” dari apa yg telah berjalan mapan selama ini.

#9 Yaitu praktek bisnis buruk yg bersumber pada paham kapitalisme membabi buta Hanya fokus pada SHARHOLDER VALUE dengan mendewakan profit dan kapitalisasi pasar

#10 dimana pembisnis bertindak rakus dan hanya mementingkan duniawi; sarat tipu-daya dan ketidakjujuran; terlalu mengeksploitasi alam dan buruh; dan bisnis yg membutakan diri terhadap persoalan sosial dan umat.

#11 Shg pandemi adl MOMENTUN tepat bagi para entrepreneurs muslim untuk menunjukkan keutamaan praktek bisnis yang islami. Model bisnis yang berbasis pada SYARIAH UNIVERSAL.

#12 Model bisnis SYARIAH UNIVERSAL hrsnya bisa mjd KOREKSI thd model bisnis kapitalis yg terbukti destruktif merusak bumi dan tatanan sosiall.

#13. Model bisnis SYARIAH UNIVERSAL hrsnya bs mjd “OBAT” bagi kerusakan bumi dan tatanan sosial yang disebabkan oleh sistem dan praktek bisnis kapitalis yg mengedepankan SELFISHNESS dan KERAKUSAN.

#14 Lalu, Apa itu model SYARIAH UNIVERSAL?

#15 Yaitu praktek bisnis yang mengedepankan: AMANAH dan BISA DIPERCAYA (“al amin“) sprti telah dipraktekan Nabi dlm berdagang. Berbisnis pd dasarnya adl mengemban amanah/kepercayaan yg diberikan konsumen. Amanah adl LANDASAN terbentuknya BRAND yg kokoh

#16 Mengacu prinsip KEADILAN bagi seluruh stakeholders. Bisnis tak boleh merugikan konsumen, karyawan, pemilik, dan umat. Semua harus mendapatkan manfaat secara ADIL

#17 Bisnis harus TRANSPARAN dan dilandasi kejujuran. Setiap traksaksi hrs melalui akad yg jelas dan disepakati oleh setiap pihak, tak ada salah satu mengeksploitasi atau memperdayai yg lain

#18 Bisnis jg hrs membawa MANFAAT bagi umat (“RAHMATAN LIL ALAMIN“) termasuk mrk yg terpinggirkan. Ktk persoalan sosial menumpuk (kesenjangan, moral, kerusakan lingkungan) pebisnis hrs mjd SOLUSI bagi persoalan tsb. Bukannya cuci tangan

#19. Bisnis juga hrs dijalankan secara SEIMBANG antara dunia dan akhirat. Bisnis dijalankan utk mencari keridhoan dunia-akhirat

#20 Namun, itu saja tidaklah cukup, sebab itu masih di dataran ETIS, SOSIAL, SPIRITUAL sbg LANDASAN. Di dataran praksis, perusahaan hrs membangun kapabilitas digital yg mumpuni agar sukses di era NEXT NORMAL setelah wabah berlalu.

#21 Sebab, di era Muslim 4.0 daya saing dibangun melalui TRANSFORMASI DIGITAL dan KOMPETENSI DIGITAL

#22 Singkatnya, era pasca COVID-19 membutuhkan praktek dan model bisnis baru dengan tiga elemen dasar: DIGITAL, SOCIAL, SPIRITUAL (DSS). Sekali lagi, ini akan menjadi solusi bagi dunia yang kian compang-camping.

Sumber tulisan : tweet @yuswohady