MARKETING SYARIAH STRATEGI – Strategi Marketing Strategi Perang

war2Marketing Syariah – Ada banyak teori yang menjelaskan bahwa Marketing adalah sebuah Peperangan, kita lihat, Buku Marketing Warfare yang dikarang oleh Al Ries dan Jack, atau The Art of War – Sun Tzu’s. Semua menjelaskan marketing adalah seperti menghadapai situasi peperangan. Sperti yang ditulis oleh Al Ries dan Jack Trout, bahwa Strategi Marketing ada beberapa al : Strategi Diefensif, Strategi Offensive, Strategi Flanking atau Strategi Serangan Menyamping dan Strategi Guerilla. Demikian juga Marketing ala Sun Tzu’s The Art of War, yang berbicara tentang Strategi memangkan peperangan, Strategi Berhadapan dengan Musuh, Strategi Penyerang dalam Perang  dan Strategi Jebakan.

Tidak salah memang kalau Marketing di ibaratkan sebuah peperangan lengkap dengan medan dan situasinya, dan memang itu faktanya. Kita bisa lihat, bagaimana pertempuran antara Coca Cola & Pepsi, atau antara Google, Aple & Microsoft, tidak hanya dari produk, segi pelayanan sampai advirtsement – pun kita rasakan aura pertempuranya itu. Di dalam negripun juga ada peperangan itu, missal Rinso dan So Klin, atau TOP KOPI sama Kopi Kapal Api,  terasa sekali pertempuran itu, dari sisi Advertismenya sampai distribusinya, (anak kos yang sering nyuci dan ngopi ngerasaan gak yah hehehehe).

Tapi apakah Marketing dengan strategi perang ini ampuh atau sebaliknya. Bisa jadi itu memang ampuh, tapi bisa jadi ada Strategi yang lain selain Strategi Marketing ala Perang. Karena dalam masa perang sangat sulit untuk melakukan strategi penjualan. Justru dengan Strategi non peperangan bisa jadi hal itu lebih efektif. Kelemahan di lapangan oleh Marketing Konvensional adalah pendistribusian sebuah produk. Masalah bukan di segemntasinya lebih ke pengguna yang sebenarnya banyak sekali, tapi karena persoalan distribusi kadang justru harga barang di daerah sudah mahal, susah di cari lagi, gimana mau untung, apalagi untung besar ?

Pernah saya sampaikan di artikel sebelumnya, bahwa negeri yang luas ini diminati banyak sekali para pemasar dari luar negri, mereka melihat pasar di Indonesia begitu luas dan masih kosong. Jadi kalau Pak Chairul Tanjung bilang tidak berminat untuk ber Investasi di luar negri wajar, selain mahal di butuhkan pengalaman belajar yang butuh dana yang luar biasa besarnya. Dan Yuswohady Pakar Marketing di #Pestawirausaha 2013 – pun mengatakan kurang lebih hal yang sama “Indonesia gadis molek dengan daya beli yang luar biasa “

Kenapa tidak kita tinggalkan Strategi Marketing Konvensional yang model perang-perangan, kita rubah menjadi Marketing modern yang lebih manusiawi dan membumi dan tentu saja Syari’e menjadi marketing Syariah. Di lingkungan yang damai kita sering saling bergotong royong dalam menyelesaikan Masalah, demikian juga Strategi Marketing Modern (baca Marketing Syariah) kenapa tidak kita coba Strategi MARKETING ”KOLABORASI”, strategi ini mentitik beratkan kepada Kolaborasi dua produk (dan lebih baik dua perusahaan yang berbeda). Bisa jadi dari produk yang satu kuat di dalam Produksinya, produk yang lain kuat di distribusinya, jadilah kolaborasi Penguatan Produk dan Penguatan Distribusinya. Ini lebih efektih untuk menangani Distribusi dan produksinya, atau dengan KOLOBIRASI untuk segi-segi yang lain. Memang di Marketing Konvensional sudah ada yang melakukan strategi ini, tapi belum banyak dan masih dianggap aneh, seperti yang dilakuakan oleh UNIQLO. Kenapa dianggap aneh karena KOLABORASI seperti ini rentan dengan masalah di sisi kerjasamanya, tentu saja kalau landasanya Syar’ie, bentuk kerjasama ini tidak perlu di khawatirkan.

Waallahu A’lam Bis-shawaab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *